Sejarah Kebudayaan Islam

  • Home
  • Likes
  • Views
  • Uploads
  • Videos
  • About
  • Read more: Cara Menambahkan CSS Navigation Bar Simpel Untuk Blogger | Tempat Blogging http://mas-basir.blogspot.com/2013/05/cara-menambahkan-css-navigation-bar.html#ixzz2Xj6lxk00 Dilarang copy paste artikel tanpa menggunakan sumber link - DMCA Protected Under Creative Commons License: Attribution Follow us: @TempatBlogging on Twitter | TempatBlogging on Facebook

Rabu, 15 Mei 2013

Bangsa Arab Pra Islam


PENDAHULUAN
Sebagian penulis sejarah Islam biasanya membahas Arab Pra-Islam sebelum menulis sejarah Islam pada masa Muhammad (570-632 M) dan sesudahnya. Mereka menggambarkan runtutan sejarah yang saling terkait satu sama lain yang dapat memberikan informasi lebih komprehensif tentang Arab dan Islam tentang geografi, sosial, budaya, agama, ekonomi, dan politik Arab pra-Islam dan relasi serta pengaruhnya terhadap watak orang Arab.
Mengkaji tentang Islam akan lebih sempurna bila kita mengkaji Arab pra-Islam terlebih dahulu, karena Islam lahir di tengah-tengah masyarakat Arab yang sudah mempunyai adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Apalagi ia muncul di kota terpenting bagi mereka yang menjadi jalur penting bagi lalu lintas perdagangan mereka kala itu, dan dibawa oleh Muhammad (570-632 M) yang merupakan salah satu keturunan suku terhormat dan memiliki kedudukan terpandang di antara mereka secara turun-temurun dalam beberapa generasi, Quraysh. Quraysh adalah suku penguasa di atas suku-suku lainnya di Mekah, sebuah kota yang di dalamnya terdapat bangunan suci tua yang memiliki daya tarik yang melebihi tempat-tempat pemujaan lainnya di daerah Arab.  




PEMBAHASAN
1)      KEADAAN NEGERI ARAB
Sejarah Arab erat kaitannya dengan Ka’bah. Sejarah Ka’bah di Makkah dimulai dengan kedatangan Ibrahim beserta istri dan anaknya Ismail yang masih bayi. Ismail yang memiliki Mu’jizat dan kemuliaan telah mendapat penghormatan besar, dan segenap orang dipenjuru Jazirah Arab berdatangan ke sana. Oleh karena itu Ibrahim bersama putranya Ismai membangun Ka’bah. Pembangunan ini dilakukan agar Ka’bah bisa dijadikan tempat mngerjakan Syi’ar Agama Ibrahim. Maka setelah itu diserulah umat manusia oleh Ibrahim untuk mengerjakan haji. Semenjak itu berdatanganlah manusia dari segenap penjuru dari berbagai macam negeri ke Makkah untuk mengerjakan ibadah Haji.
Nageri arab terletak di sebelah barat daya Asia, dan merupakan semenajung yang di kelilingi laut dari tiga jurusan; Lau Merah, Lautan Hindia, dan Teluk Persia.Negeri-negeri Arabia pada umumnya terdiri dar padang pasir (sahara), tetapi tidak semuanya tandus, ada pula yang subur.
Para ahi geografi purba membagi jazirah Arabia sebagai berikut.
a.       Araba Fetrix, yaitu daerah-daerah yang terletak di sebelah barat daya Lembah Syiria.
b.      Arabia Deresta, yaitu daerah Syiria sendiri.
c.       Arabia Felix, yaitu negeri Yaman, yang terkenal dengan nama “Bumi Hijau”[1]
Bangsa  Arab adalah ras Semit yang tinggal di  sekitar jazirah  Arabia.[2] Bangsa Arab  purbakala  adalah  masyarakat terpencil sehingga sulit dilacak riwayatnya. Bangsa arab terbagi atas dua kelombok besar, yaitu:
1.      Arab Baidah
Arab Baidah ialah bangsa Arab yang sudah tidak ada lagi, di antaranya telah tercatat dalam kita agama samawi dan syair-syair arab seperti kaum Tsamud, Ad, Jadis, dan Thasm. Rata-rata kehidupan peradaban mereka maju dalam bidang pertanian, peternakan, dan kerajinan. Hal tersebut karena letaknya yang strategis diantar jalur perniagaan internasional saat itu, maka banyak penduduknya menjadi saudagar ulung.
2.      Arab  Baqiah  (mereka  ini masih ada)  terbagi  pada  dua kelompok:
a.       Arab Aribah, yaitu kelompok Qahthan, dan tanah air mereka yaitu Yaman. Diantara kabilah-kabilah mereka yang terkenal yaitu Jurham,Ya’rab, dan dari Ya’rab ini lahirlah suku-suku Kahlan dan Himyar.
b.      Arab Musta’rabah, mereka adalah sebagian besar penduduk Arabia, dari dusun sampai ke kota, yaitu mereka yang mendiamai bagian tengah Jazirah Arab dan negeri Hijaz sampai kelembah Syiria. Mereka di namakan Arab Musta’rabah karena padawaktu Jurham dari suku Qahthaniyamendiami Mekah, Mereka tinggal bersam Nabi Ibrahim as. serta Ibunya, dimana kemudian Ibrahim dan putra-putranya mempelajari bahasa Arab.[3]
Masa ini yang melingkupi beberap abad sebelum islam terkenal dengan zaman al-Jahiliyah ( keadaan tanpa pengetahuan) meskipun memang benar bahwa abad ini menunjukkan bahwa kehidupan sebagai nomade semakin meluas, setelah peradaban pribumi Arab Selatan mengalami keruntuhan dan lenyap. Dan kebudayan Mesopotamia dan Arami di Utara mengalami kemunduran, namun sekaran ini diakui sejarah umum istilah Jahiliyah, seperti yang dipakai dalam Qua’an dan oleh ahli-ahli sejarah islam bukanlah “tanpa pengetahuan” atau “bodoh” melaikan “liar”[4]
2)      SOSIAL DAN BUDAYA
Adapun keadaan sosial mereka, terdapat beberapa segi baik dan ada pula yang buruk. Segi-segi yang baik, misalnya setia kepada kawan dan setia kepada janji, menghormati tamu, tolong menolong antara anggota-anggota kabilah. Segi-segi yang buruk, misalnya merendahkan derajat wanita, suka bermusuhan lantaran masalah sepeleh.[5]
Keadaan bangsa Arab yang hidup di daerah padang pasir yang tandus, sedikit banyaknya turut membuat corak kehidupan mereka  berjalan  agak keras,  penuh persaingan, perebutan kekuasaan antara satu kabilah dengan kabilah lainnya. Siapa yang kuat, gagah  perkasa itulah yang memimpin.Dalam hidup bermasyarakat, bangsa Arab sangat  dilungkupi kehidupan keduniawian. Mereka sangat menggemari hal-hal berikut ini:
1)      Syair, dengan syair, orang bisa dipuji/mulia dan dihina. Dari  syair ini akan  tergambar  kehidupan  sosial bangsa Arab.
2)      Minum  khamar, kendati di antara mereka ada pula  yang mengharamkan hal ini.
3)      Ada pula adat (tradisi) pada saat itu kebiasaan “mengawini isteri bapa”yang telah meninggal dunia.
4)      Menganggap hina kaum perempuan.
5)      Menguburkan anak perempuan, namun hal ini menurut Sallabi, ini hanya dilakukan oleh Bani Asad dan Tamim.
6)      Sementara mereka yang pandai membaca saat itu hanyalah sebanyak  17 orang.
7)      Perbudakan suatu hal yang biasa terjadi pada masa Arab pra-Islam. Mereka ini memelihara  dan  mempertahankan perbudakan.
Negara Hijaz tidak pernah dijajah, diduduki, atau dipengaruhi oleh bangsa asing. Hal ini disebabkan karean kondisi geografis dan kemiskinan negerinya sehingga tidak menimbulkan hasrat bangs asing untuk menjajahnya. Dan disebabkan karena Hijaz sejak zaman Ibrahim telah menjadi Ka’bah bagi bangsa Arab. Mereka bekarja bersama-sama memelihar, menjaga kemananan, dan menjauhkan penjajah dari negerinya.
Sebagai lalu lintas perdagangan penting terutama Mekah yang merupakan pusat perdagangan di Jazirah Arab, baik karena meluasnya pengaruh perdagangannya ke Persia dan Bizantium di sebelah selatan dan Yaman di sebelah utara atau karena pasar-pasar perdagangannya yang merupakan yang terpenting di Jazirah Arab karena begitu banyaknya, yaitu Ukāẓ, Majnah, dan Dzū al-Majāz yang menjadikannya kaya dan tempat bertemunya aliran-aliran kebudayaan. Mekah merupakan pusat peradaban kecil. Bahkan masa Jahiliah bukan masa kebodohan dan kemunduran seperti ilustrasi para sejarahwan, tetapi ia merupakan masa-masa peradaban tinggi. Kebudayaan sebelah utara sudah ada sejak seribu tahun sebelum masehi.
3)      POLITIK
Masyarakat pada zaman Jahiliyahtidak memiliki pemerintahan seperti sekarang. Mereka hanya memiliki pimpinan yang mengurus berbagai hal dalam keadaanperang dan damai, sering terjadi perang antar kaum, antar kabilah, dan antar suku. Bahkan ada perang yang terjadi hingga puluhan tahun[6], misalnya:
        I.            Perang al-Basus terjadi pada akhir abad kelima masehi antara kabilah Bakr dan kabilah Taghlib, keduanya keturunan Wayl. Peperangan ini berlangsung berulang-ulang selama 40 tahun dan dapat dibagi menjadi beberapa peristiwa yang berdiri sendiri, sehingga peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam rentetan perang al-Basus ini juga dapat disebut menjadi beberapa perisiwa tersendiri. Peperangan ini bermula dari seekor unta milik wanita tua bernama al-Basus, dari kabilah Bakr. Dari peperangan yang berulangulang itu kedua kabilah silih berganti mendapati kemenangan dan kekalahan.
      II.            Perang Dahis dan al-Ghabra: peperangan ini terjadi antara kabilah ‘Abas dan kabilah Zabyan, keduanya putera Baghidh ibn Rabats ibn Ghathfan. Disebut juga peperangan Qays, karena peperangan itu disebabkan oleh taruhan antara Qays ibn Zuhayr (dari kabilah ‘Abas) dan Hamal ibn Badar (dari kabilah Zabyan).
    III.            Yawm (peperangan) Fujjar, yaitu pepeerangan yang terjadi padabulan-bulan Haram (Rajab, Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharam) antara kabilah-kabilah di Hijaz. Perang Fujjar terjadi beberapa kali dengan latar belakang yang berbeda-beda. Perang Fujjar pertama terjadi antara kabilah Tinanah dan kabilah Hawazin, tidak begitu dasyat. Perang Fujjar kedua antara Quraisy dan Hawazin, dimana terbunuh beberapa orang dari kedua belah pihak dan berhasil didamaikan oleh Harb ibn Umayyah.[7]
Secara global-teritorial, Arab merupakan negeri yang terletak di semenanjung Arab yang dikelilingi tiga lautan, yaitu Laut Merah di Barat, Samudera Hindia di Selatan, dan Teluk Persia di sebelah Timur. Letak geopolitik ini berdampak signifikan pada kondisi sosial bangsa Arab. Negeri Yaman misalnya, diperintah oleh bermacam-macam suku dan pemerintahan yang terbesar adalah masa pemerintahan Tababi’ah dari kabilah Himyar.
Di bagian Timur Jazirah Arab, dari kawasan Hirah hingga Iraq, yang ada hanya daerah-daerah kecil yang tunduk kepada kekuasaan Persia hingga datangnya Islam. Raja-raja Munadzirah sama sekali tidak berdiri sendiri dan tidak merdeka, tetapi tunduk secara politis di bawah kekuasaan raja-raja Persia. Bagian Utara Jazirah Arab sama dengan bagian Timur, karena di daerah itu juga tidak ada pemerintahan bangsa Arab yang murni dan merdeka. Semua raja di sini tunduk di bawah kekuasaan Romawi. Raja-raja Ghasasanah semuanya serupa dengan raja-raja Munadzirah.
Sementara itu, di Tengah Jazirah Arab, di mana terdapat tanah suci Mekkah dan sekitarnya, kaum Adnaniyyin menjadi penguasa yang independen, tidak dikuasai oleh Romawi, Persia, maupun Habasyah. Allah telah menjaga kehormatan tanah dan penduduk disana. Bahkan sejak masa imperialisme Barat yang menjajah dunia Islam, tak ada yang bisa menguasai negeri suci ini karena Allah telah menjaga kesuciannya.

4)      AGAMA
Ada perlainan pendapat dalam kalangan ahli-ahli sejarah agama tentang menentukan keadaan keadaan yang menolong bagi pertumbuhan dan perkembangan naluri beragama itu. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa naluri beragama akan tumbuh dan berkembang, bila fikiran telah maju dan kecerdasan tinggi; bila manusia telah sampai kepada taraf berfikir tentang dirinya, bagaimana dirinya itu dijadikan, tenaga-tenaga dan daya-daya apa yang ada pada dirinya itu, bagaimana dia dapat melihat dan mendengar dan sebagainya.
Sedang sebagian lain berpendapat bahwa naluri beragama itu tumbuh dan berkembang, dimana perbedaan gejala-gejala alam amat jelas kelihatannya, dimana manusia merasa lemah berhadapan dengan gejala-gejala alam itu, maka timbullah keinginannya hendak meminta pertolongan atau meminta perlindungan kepada gejala-gejala alam itu. Beginilah halnya manusia primitif ; dikala mereka melihat hujan, angin, penyakit, maut, binatang-binatang buas, mereka merasakan kelemahan mereka maka oleh karena itu dicarilah perlindungan.
Juga terdapat dari bekas-bekas zaman purbakala itu telah dapat diketahui orang, apakah agama yang dipeluk pada masa itu. Rupanya mereka juga menyembah bulan dan matahari, mereka sifatkan kedua benda itu dengan bermacam-macam sifat, mereka sembah. Barang kali lantaran dialah penerang yang utama alam ini, dan bintang-bintang adalah sebagai pahlawan-pahlawan wakil Tuhan Matahari.
Paganisme, Yahudi, dan Kristen adalah agama orang Arab pra-Islam. Pagan adalah agama mayoritas mereka. Ratusan berhala dengan bermacam-macam bentuk ada di sekitar Ka’bah. Mereka bahwa berhala-berhala itu dapat mendekatkan mereka pada Tuhan sebagaimana yang tertera dalam al-Quran. Agama pagan sudah ada sejak masa sebelum Ibrahim. Setidaknya ada empat sebutan bagi berhala-hala itu: ṣanam, wathan, nuṣub, dan ḥubal. Ṣanam berbentuk manusia dibuat dari logam atau kayu. Wathan juga dibuat dari batu. Nuṣub adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu. Ḥubal berbentuk manusia yang dibuat dari batu akik. Dialah dewa orang Arab yang paling besar dan diletakkan dalam Ka’bah di Mekah. Orang-orang dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu. Beberapa kabilah melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri. Ini membuktikan bahwa paganisme sudah berumur ribuan tahun. Sejak berabad-abad penyembahan patung berhala tetap tidak terusik, baik pada masa kehadiran permukiman Yahudi maupun upaya-upaya kristenisasi yang muncul di Syiria dan Mesir.
Yahudi dianut oleh para imigran yang bermukim di Yathrib dan Yaman. Tidak banyak data sejarah tentang pemeluk dan kejadian penting agama ini di Jazirah Arab, kecuali di Yaman. Dzū Nuwās adalah seorang penguasa Yaman yang condong ke Yahudi. Dia tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa bangsanya. Dia meminta penduduk Najran agar masuk agama Yahudi, kalau tidak akan dibunuh. Karena mereka menolak, maka digalilah sebuah parit dan dipasang api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam parit itu dan yang tidak mati karena api, dibunuh dengan pedang atau dibuat cacat. Korban pembunuhan itu mencapai dua puluh ribu orang. Tragedi berdarah dengan motif fanatisme agama ini diabadikan dalam al-Quran dalam kisah “orang-orang yang membuat parit”.
Peradaban Arab adalah akibat dari pengaruh budaya bangsa-bangsa disekitarnya yang lebih dahulu maju dari pada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke Jazirah arab melalui bebera jalur; yang terpenting diantaranya adalah:
1.      Melalui hubungan dagang dengan bangsa lain.
2.      Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, Hirah, dan Ghassan.
3.      Masuknya misi Yahudi dan Kristen.
Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa Sirira, Persia, Habsyi, Mesir (Qibthi), dan Romawi yang semuanya telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Agama Kristen dan Yahudi sudah masuk ke Jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu banyak percaya kepada dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung. Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Behala-berhala tersebut di pusatkan di Kabah, tetapi ditempat lain juga banyak terdapat berhala. Berhala-berhala yang terpenting adalah Hubal, yang dianggap sebagai dewa terbesar, terletak di Kabah; Latta, dewa tertua terletak di Thaif; Uzza, bertempat di Hijz, kedududukannya beradah di bawah Hubal dan Manat yang bertempat di Yatsrib. Berhala-berhala itu mereka jadikan tempat menenyakan dan mengetahui nasib baik dan buruk. Demikianlah, keadaan bangsa dan Jazirah Arab menjelang kebangkitan islam.[8]

5)      EKONOMIDANHUKUM
Sesuai dengan tanah Arab yang sebagian besar terdiri dari padang pasir sahara, ekonomi mereka yang terpenting yaitu perdagangan. Masyarakat Quraisy berdagang sepanjang tahun. Di musim dingin mereka mengirim kafilah dagang ke Yaman, sedangkan di Musim panas kafilah dagang menuju Syiria.Perdagangan yang paling ramai di Kota Mekah yaitu selama musim “Pasar Ukaz”, yaitu pada bulan Zulqaidah, Zulhijjah, dan Muharam.[9]
Dalam bidang hukum, Mushthafa Sa’id Al-Kihinn sebagai mana dikutip oleh Jaih Mubarok menyebutkan bahwa bangsa arab pra islam menjadika adat sebagai hukum dengan berbagai bentuknya.[10] Dalam perkawinan, mereka mengenal beberapa perkawinan, diantaranya:
1.      Al- Khidn, menurut anggapan mereka asal tidak ketahuan tidak apa-apa, tapi kalau ketahuan dianggap tercela, perkawinan seperti ini memelihara gundik.
2.      Badal, atau tukar istri, seorang laik-laki menawarkan kepada laki-laki lain: "izinkanlah saya tidur bersama istrimu dan istrimu boleh untukmu", perkawinan seperti ini "jual beli"tukar tambah.
3.      Istibdha, kawin untuk mencari "bibit unggul".Seorang laki-laki menyuruh istrinya supaya menyuruh tidur dengan laki-laki lain. Suami berpesan, "kalau kamu sudah suci dari haid pergilah kepada si "anu", mintalah agar kamu dicampuri.", kemudian istri tersebut memisahkan diri sampai jelas mengandung. kalau sudah hamil suaminya boleh memcampurinya kalau ia mau.
4.      Poliandri, kira-kira sepuluh orang mencampurinya, masing-masing mendapat giliran,kalau wanita itu sudah hamildan melahirkan, selang beberapa malam wanita itu memanggil beberapa laki-laki yang mencampurinya dan mereka tidak boleh menolaknya, setelah kumpul wanita itu berkata, "kamu sudah tahu apa yang kamu perbuat terhadap diriku, sekarang saya telah melahirkan, anak itu adalah anakmu (dia menyebutkan nama seorang yang ia sukai)", maka anak itu diajukan sebagai anak dari laki-laki yang ia tunjuk dan si laki-laki tidak boleh membantahnya.
5.      Syighar, seorang laki-laki menikahkan anak perempuannya dengan seorang dengan diikuti permintaan agar dia dikawinkan dengan anak perempuan calon menantunya atau perempuan yang ada dibawah kekuasaan orang yang akan dikawinkan dengan anak perempuannya, keduanya akan kawin tanpa membayar mas kawin.
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa sebagian besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali daerah Yaman yang terkenal subur dan bahwa ia terletak di daerah strategis sebagai lalu lintas perdagangan. Ia terletak di tengah-tengah dunia dan jalur-jalur perdagangan dunia, terutama jalur-jalur yang menghubungkan Timur Jauh dan India dengan Timur Tengah melalui jalur darat yaitu dengan jalur melalui Asia Tengah ke Iran, Irak lalu ke laut tengah, sedangkan melalui jalur laut yaitu dengan jalur Melayu dan sekitar India ke teluk Arab atau sekitar Jazirah ke laut merah atau Yaman yang berakhir di Syam atau Mesir. Oleh karena itu, perdagangan merupakan andalan bagi kehidupan perekonomian bagi mayoritas negara-negara di daerah-daerah ini.
KESIMPULAN
Nageri arab terletak di sebelah barat daya Asia, dan merupakan semenajung yang di kelilingi laut dari tiga jurusan; Lau Merah, Lautan Hindia, dan Teluk Persia. Negeri-negeri Arabia pada umumnya terdiri dar padang pasir (sahara), tetapi tidak semuanya tandus, ada pula yang subur.Dalam segi Sosial, terdapat beberapa segi baik dan ada pula yang buruk. Segi-segi yang baik, misalnya setia kepada kawan dan setia kepada janji, dan lain-lain. Segi-segi yang buruk, misalnya merendahkan derajat wanita, suka bermusuhan lantaran masalah sepeleh.
Negeri Arab sebagai lalu lintas perdagangan penting terutama Mekah yang merupakan pusat perdagangan di Jazirah Arab, baik karena meluasnya pengaruh perdagangannya ke Persia dan Bizantium di sebelah selatan dan Yaman di sebelah utara atau karena pasar-pasar perdagangannya yang merupakan yang terpenting di Jazirah Arab karena begitu banyaknya, yaitu Ukāẓ, Majnah, dan Dzū al-Majāz yang menjadikannya kaya dan tempat bertemunya aliran-aliran kebudayaan. Mekah merupakan pusat peradaban kecil. Bahkan masa Jahiliah bukan masa kebodohan dan kemunduran seperti ilustrasi para sejarahwan, tetapi ia merupakan masa-masa peradaban tinggi. Kebudayaan sebelah utara sudah ada sejak seribu tahun sebelum masehi. Masyarakat pada zaman Jahiliyah tidak memiliki pemerintahan seperti sekarang. Mereka hanya memiliki pimpinan yang mengurus berbagai hal dalam keadaan perang dan damai. Dan Agama yang dianut oleh kalangan bangsa arab pra islam adalah Paganisme, Yahudi, dan Kristen.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir. 2010.Sejarah Peradaban Islam,Jakarta: Amzah
Hitti, Fhilif K. 2008. History Of The Arabs.Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
Naseibeh, Hazem Zaki. 1969.Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab, Jakarta: Bhratara
Supriyadi,Dedi.2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia
Yatim,Badri.1997. Historiografi Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu


[1]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah, 2010) hlm. 55.
[2] Fhilif K Hitti, History Of The Arabs (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2008) hlm. 3.
[3]Samsul Munir, of cit, hlm. 56.
[4]Hazem Zaki Naseibeh, Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab (Jakarta: Bhratara, 1969) hlm. 3.
[5]Samsul Munir, of cit, hlm. 59.
[6]Samsul Munir, of cit, hlm. 58-59.
[7]Badri Yatim, Historiografi Islam (Jakarta: Logos Wcana Ilmu, 1997) hlm. 34.
[8]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2008) hlm. 54.
[9]Samsul Munir, of cit, hlm. 59.
[10]Dedi Supriyadi, ibid, hlm. 55-56.