PENDAHULUAN
Sebagian penulis sejarah Islam biasanya membahas Arab Pra-Islam
sebelum menulis sejarah Islam pada masa Muhammad (570-632 M) dan sesudahnya.
Mereka menggambarkan runtutan sejarah yang saling terkait satu sama lain yang
dapat memberikan informasi lebih komprehensif tentang Arab dan Islam tentang
geografi, sosial, budaya, agama, ekonomi, dan politik Arab pra-Islam dan relasi
serta pengaruhnya terhadap watak orang Arab.
Mengkaji tentang Islam akan lebih sempurna bila kita mengkaji Arab
pra-Islam terlebih dahulu, karena Islam lahir di tengah-tengah masyarakat Arab
yang sudah mempunyai adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Apalagi ia muncul di kota terpenting bagi mereka yang menjadi jalur penting
bagi lalu lintas perdagangan mereka kala itu, dan dibawa oleh Muhammad (570-632
M) yang merupakan salah satu keturunan suku terhormat dan memiliki kedudukan
terpandang di antara mereka secara turun-temurun dalam beberapa generasi,
Quraysh. Quraysh adalah suku penguasa di atas suku-suku lainnya di Mekah,
sebuah kota yang di dalamnya terdapat bangunan suci tua yang memiliki daya
tarik yang melebihi tempat-tempat pemujaan lainnya di daerah Arab.
PEMBAHASAN
1)
KEADAAN NEGERI ARAB
Sejarah Arab erat kaitannya dengan Ka’bah. Sejarah Ka’bah di Makkah
dimulai dengan kedatangan Ibrahim beserta istri dan anaknya Ismail yang masih
bayi. Ismail yang memiliki Mu’jizat dan kemuliaan telah mendapat penghormatan
besar, dan segenap orang dipenjuru Jazirah Arab berdatangan ke sana. Oleh
karena itu Ibrahim bersama putranya Ismai membangun Ka’bah. Pembangunan ini
dilakukan agar Ka’bah bisa dijadikan tempat mngerjakan Syi’ar Agama Ibrahim.
Maka setelah itu diserulah umat manusia oleh Ibrahim untuk mengerjakan haji. Semenjak
itu berdatanganlah manusia dari segenap penjuru dari berbagai macam negeri ke
Makkah untuk mengerjakan ibadah Haji.
Nageri arab terletak di sebelah barat daya Asia, dan merupakan
semenajung yang di kelilingi laut dari tiga jurusan; Lau Merah, Lautan Hindia,
dan Teluk Persia.Negeri-negeri Arabia pada umumnya terdiri dar padang pasir
(sahara), tetapi tidak semuanya tandus, ada pula yang subur.
Para ahi geografi purba membagi jazirah Arabia sebagai berikut.
a.
Araba Fetrix, yaitu daerah-daerah yang terletak di sebelah barat
daya Lembah Syiria.
b.
Arabia Deresta, yaitu daerah Syiria sendiri.
c.
Arabia Felix, yaitu negeri Yaman, yang terkenal dengan nama “Bumi
Hijau”[1]
Bangsa Arab adalah ras Semit
yang tinggal di sekitar jazirah Arabia.[2]
Bangsa Arab purbakala adalah
masyarakat terpencil sehingga sulit dilacak riwayatnya. Bangsa arab
terbagi atas dua kelombok besar, yaitu:
1.
Arab Baidah
Arab Baidah ialah bangsa Arab yang sudah tidak ada lagi, di
antaranya telah tercatat dalam kita agama samawi dan syair-syair arab seperti
kaum Tsamud, Ad, Jadis, dan Thasm. Rata-rata kehidupan peradaban mereka maju
dalam bidang pertanian, peternakan, dan kerajinan. Hal tersebut karena letaknya
yang strategis diantar jalur perniagaan internasional saat itu, maka banyak
penduduknya menjadi saudagar ulung.
2.
Arab Baqiah (mereka
ini masih ada) terbagi pada
dua kelompok:
a.
Arab Aribah, yaitu kelompok Qahthan, dan tanah air mereka yaitu
Yaman. Diantara kabilah-kabilah mereka yang terkenal yaitu Jurham,Ya’rab, dan
dari Ya’rab ini lahirlah suku-suku Kahlan dan Himyar.
b.
Arab Musta’rabah, mereka adalah sebagian besar penduduk Arabia,
dari dusun sampai ke kota, yaitu mereka yang mendiamai bagian tengah Jazirah
Arab dan negeri Hijaz sampai kelembah Syiria. Mereka di namakan Arab
Musta’rabah karena padawaktu Jurham dari suku Qahthaniyamendiami Mekah, Mereka
tinggal bersam Nabi Ibrahim as. serta Ibunya, dimana kemudian Ibrahim dan
putra-putranya mempelajari bahasa Arab.[3]
Masa ini yang melingkupi beberap abad sebelum islam terkenal dengan
zaman al-Jahiliyah ( keadaan tanpa pengetahuan) meskipun memang benar
bahwa abad ini menunjukkan bahwa kehidupan sebagai nomade semakin meluas,
setelah peradaban pribumi Arab Selatan mengalami keruntuhan dan lenyap. Dan
kebudayan Mesopotamia dan Arami di Utara mengalami kemunduran, namun sekaran
ini diakui sejarah umum istilah Jahiliyah, seperti yang dipakai dalam Qua’an
dan oleh ahli-ahli sejarah islam bukanlah “tanpa pengetahuan” atau “bodoh”
melaikan “liar”[4]
2)
SOSIAL DAN BUDAYA
Adapun keadaan sosial mereka, terdapat beberapa segi baik dan ada
pula yang buruk. Segi-segi yang baik, misalnya setia kepada kawan dan setia
kepada janji, menghormati tamu, tolong menolong antara anggota-anggota kabilah.
Segi-segi yang buruk, misalnya merendahkan derajat wanita, suka bermusuhan
lantaran masalah sepeleh.[5]
Keadaan bangsa Arab yang hidup di daerah padang pasir yang tandus,
sedikit banyaknya turut membuat corak kehidupan mereka berjalan
agak keras, penuh persaingan,
perebutan kekuasaan antara satu kabilah dengan kabilah lainnya. Siapa yang kuat,
gagah perkasa itulah yang memimpin.Dalam
hidup bermasyarakat, bangsa Arab sangat
dilungkupi kehidupan keduniawian. Mereka sangat menggemari hal-hal
berikut ini:
1)
Syair, dengan syair, orang bisa dipuji/mulia dan dihina. Dari syair ini akan tergambar
kehidupan sosial bangsa Arab.
2)
Minum khamar, kendati di
antara mereka ada pula yang mengharamkan
hal ini.
3)
Ada pula adat (tradisi) pada saat itu kebiasaan “mengawini isteri bapa”yang
telah meninggal dunia.
4)
Menganggap hina kaum perempuan.
5)
Menguburkan anak perempuan, namun hal ini menurut Sallabi, ini
hanya dilakukan oleh Bani Asad dan Tamim.
6)
Sementara mereka yang pandai membaca saat itu hanyalah
sebanyak 17 orang.
7)
Perbudakan suatu hal yang biasa terjadi pada masa Arab pra-Islam.
Mereka ini memelihara dan mempertahankan perbudakan.
Negara Hijaz tidak pernah dijajah, diduduki, atau dipengaruhi oleh
bangsa asing. Hal ini disebabkan karean kondisi geografis dan kemiskinan
negerinya sehingga tidak menimbulkan hasrat bangs asing untuk menjajahnya. Dan
disebabkan karena Hijaz sejak zaman Ibrahim telah menjadi Ka’bah bagi bangsa
Arab. Mereka bekarja bersama-sama memelihar, menjaga kemananan, dan menjauhkan
penjajah dari negerinya.
Sebagai lalu lintas perdagangan penting terutama Mekah yang merupakan
pusat perdagangan di Jazirah Arab, baik karena meluasnya pengaruh
perdagangannya ke Persia dan Bizantium di sebelah selatan dan Yaman di sebelah
utara atau karena pasar-pasar perdagangannya yang merupakan yang terpenting di
Jazirah Arab karena begitu banyaknya, yaitu Ukāẓ, Majnah, dan Dzū al-Majāz yang
menjadikannya kaya dan tempat bertemunya aliran-aliran kebudayaan. Mekah
merupakan pusat peradaban kecil. Bahkan masa Jahiliah bukan masa kebodohan dan
kemunduran seperti ilustrasi para sejarahwan, tetapi ia merupakan masa-masa
peradaban tinggi. Kebudayaan sebelah utara sudah ada sejak seribu tahun sebelum
masehi.
3)
POLITIK
Masyarakat pada zaman Jahiliyahtidak memiliki pemerintahan seperti
sekarang. Mereka hanya memiliki pimpinan yang mengurus berbagai hal dalam
keadaanperang dan damai, sering terjadi perang antar kaum, antar kabilah, dan
antar suku. Bahkan ada perang yang terjadi hingga puluhan tahun[6],
misalnya:
I.
Perang al-Basus terjadi pada akhir abad kelima masehi antara
kabilah Bakr dan kabilah Taghlib, keduanya keturunan Wayl. Peperangan ini
berlangsung berulang-ulang selama 40 tahun dan dapat dibagi menjadi beberapa
peristiwa yang berdiri sendiri, sehingga peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam
rentetan perang al-Basus ini juga dapat disebut menjadi beberapa perisiwa
tersendiri. Peperangan ini bermula dari seekor unta milik wanita tua bernama
al-Basus, dari kabilah Bakr. Dari peperangan yang berulangulang itu kedua
kabilah silih berganti mendapati kemenangan dan kekalahan.
II.
Perang Dahis dan al-Ghabra: peperangan ini terjadi antara kabilah
‘Abas dan kabilah Zabyan, keduanya putera Baghidh ibn Rabats ibn Ghathfan.
Disebut juga peperangan Qays, karena peperangan itu disebabkan oleh taruhan
antara Qays ibn Zuhayr (dari kabilah ‘Abas) dan Hamal ibn Badar (dari kabilah
Zabyan).
III.
Yawm (peperangan) Fujjar, yaitu pepeerangan yang terjadi
padabulan-bulan Haram (Rajab, Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharam) antara
kabilah-kabilah di Hijaz. Perang Fujjar terjadi beberapa kali dengan latar
belakang yang berbeda-beda. Perang Fujjar pertama terjadi antara kabilah
Tinanah dan kabilah Hawazin, tidak begitu dasyat. Perang Fujjar kedua antara
Quraisy dan Hawazin, dimana terbunuh beberapa orang dari kedua belah pihak dan
berhasil didamaikan oleh Harb ibn Umayyah.[7]
Secara global-teritorial, Arab merupakan negeri yang terletak di
semenanjung Arab yang dikelilingi tiga lautan, yaitu Laut Merah di Barat,
Samudera Hindia di Selatan, dan Teluk Persia di sebelah Timur. Letak geopolitik
ini berdampak signifikan pada kondisi sosial bangsa Arab. Negeri Yaman
misalnya, diperintah oleh bermacam-macam suku dan pemerintahan yang terbesar
adalah masa pemerintahan Tababi’ah dari kabilah Himyar.
Di bagian Timur Jazirah Arab, dari kawasan Hirah hingga Iraq, yang
ada hanya daerah-daerah kecil yang tunduk kepada kekuasaan Persia hingga
datangnya Islam. Raja-raja Munadzirah sama sekali tidak berdiri sendiri dan
tidak merdeka, tetapi tunduk secara politis di bawah kekuasaan raja-raja
Persia. Bagian Utara Jazirah Arab sama dengan bagian Timur, karena di daerah
itu juga tidak ada pemerintahan bangsa Arab yang murni dan merdeka. Semua raja
di sini tunduk di bawah kekuasaan Romawi. Raja-raja Ghasasanah semuanya serupa
dengan raja-raja Munadzirah.
Sementara itu, di Tengah Jazirah Arab, di mana terdapat tanah suci
Mekkah dan sekitarnya, kaum Adnaniyyin menjadi penguasa yang independen, tidak
dikuasai oleh Romawi, Persia, maupun Habasyah. Allah telah menjaga kehormatan
tanah dan penduduk disana. Bahkan sejak masa imperialisme Barat yang menjajah
dunia Islam, tak ada yang bisa menguasai negeri suci ini karena Allah telah
menjaga kesuciannya.
4)
AGAMA
Ada perlainan pendapat dalam kalangan ahli-ahli sejarah agama
tentang menentukan keadaan keadaan yang menolong bagi pertumbuhan dan perkembangan
naluri beragama itu. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa naluri beragama
akan tumbuh dan berkembang, bila fikiran telah maju dan kecerdasan tinggi; bila
manusia telah sampai kepada taraf berfikir tentang dirinya, bagaimana dirinya
itu dijadikan, tenaga-tenaga dan daya-daya apa yang ada pada dirinya itu,
bagaimana dia dapat melihat dan mendengar dan sebagainya.
Sedang sebagian lain berpendapat bahwa naluri beragama itu tumbuh
dan berkembang, dimana perbedaan gejala-gejala alam amat jelas kelihatannya,
dimana manusia merasa lemah berhadapan dengan gejala-gejala alam itu, maka
timbullah keinginannya hendak meminta pertolongan atau meminta perlindungan
kepada gejala-gejala alam itu. Beginilah halnya manusia primitif ; dikala
mereka melihat hujan, angin, penyakit, maut, binatang-binatang buas, mereka
merasakan kelemahan mereka maka oleh karena itu dicarilah perlindungan.
Juga terdapat dari bekas-bekas zaman purbakala itu telah dapat
diketahui orang, apakah agama yang dipeluk pada masa itu. Rupanya mereka juga
menyembah bulan dan matahari, mereka sifatkan kedua benda itu dengan
bermacam-macam sifat, mereka sembah. Barang kali lantaran dialah penerang yang
utama alam ini, dan bintang-bintang adalah sebagai pahlawan-pahlawan wakil
Tuhan Matahari.
Paganisme, Yahudi, dan Kristen adalah agama orang Arab pra-Islam.
Pagan adalah agama mayoritas mereka. Ratusan berhala dengan bermacam-macam
bentuk ada di sekitar Ka’bah. Mereka bahwa berhala-berhala itu dapat
mendekatkan mereka pada Tuhan sebagaimana yang tertera dalam al-Quran. Agama
pagan sudah ada sejak masa sebelum Ibrahim. Setidaknya ada empat sebutan bagi
berhala-hala itu: ṣanam, wathan, nuṣub, dan ḥubal. Ṣanam berbentuk manusia
dibuat dari logam atau kayu. Wathan juga dibuat dari batu. Nuṣub adalah batu
karang tanpa suatu bentuk tertentu. Ḥubal berbentuk manusia yang dibuat dari
batu akik. Dialah dewa orang Arab yang paling besar dan diletakkan dalam Ka’bah
di Mekah. Orang-orang dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat
itu. Beberapa kabilah melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri. Ini
membuktikan bahwa paganisme sudah berumur ribuan tahun. Sejak berabad-abad
penyembahan patung berhala tetap tidak terusik, baik pada masa kehadiran
permukiman Yahudi maupun upaya-upaya kristenisasi yang muncul di Syiria dan
Mesir.
Yahudi dianut oleh para imigran yang bermukim di Yathrib dan Yaman.
Tidak banyak data sejarah tentang pemeluk dan kejadian penting agama ini di
Jazirah Arab, kecuali di Yaman. Dzū Nuwās adalah seorang penguasa Yaman yang
condong ke Yahudi. Dia tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa
bangsanya. Dia meminta penduduk Najran agar masuk agama Yahudi, kalau tidak
akan dibunuh. Karena mereka menolak, maka digalilah sebuah parit dan dipasang
api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam parit itu dan yang tidak mati
karena api, dibunuh dengan pedang atau dibuat cacat. Korban pembunuhan itu
mencapai dua puluh ribu orang. Tragedi berdarah dengan motif fanatisme agama
ini diabadikan dalam al-Quran dalam kisah “orang-orang yang membuat parit”.
Peradaban Arab adalah akibat dari pengaruh budaya bangsa-bangsa
disekitarnya yang lebih dahulu maju dari pada kebudayaan dan peradaban Arab.
Pengaruh tersebut masuk ke Jazirah arab melalui bebera jalur; yang terpenting
diantaranya adalah:
1.
Melalui hubungan dagang dengan bangsa lain.
2.
Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, Hirah, dan Ghassan.
3.
Masuknya misi Yahudi dan Kristen.
Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan dengan
bangsa-bangsa Sirira, Persia, Habsyi, Mesir (Qibthi), dan Romawi yang semuanya
telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Agama Kristen dan Yahudi sudah
masuk ke Jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka,
yaitu banyak percaya kepada dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan
patung. Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Behala-berhala tersebut di
pusatkan di Kabah, tetapi ditempat lain juga banyak terdapat berhala.
Berhala-berhala yang terpenting adalah Hubal, yang dianggap sebagai dewa
terbesar, terletak di Kabah; Latta, dewa tertua terletak di Thaif; Uzza, bertempat
di Hijz, kedududukannya beradah di bawah Hubal dan Manat yang bertempat di
Yatsrib. Berhala-berhala itu mereka jadikan tempat menenyakan dan mengetahui
nasib baik dan buruk. Demikianlah, keadaan bangsa dan Jazirah Arab menjelang
kebangkitan islam.[8]
5)
EKONOMIDANHUKUM
Sesuai dengan tanah Arab yang sebagian besar terdiri dari padang
pasir sahara, ekonomi mereka yang terpenting yaitu perdagangan. Masyarakat
Quraisy berdagang sepanjang tahun. Di musim dingin mereka mengirim kafilah
dagang ke Yaman, sedangkan di Musim panas kafilah dagang menuju Syiria.Perdagangan
yang paling ramai di Kota Mekah yaitu selama musim “Pasar Ukaz”, yaitu pada
bulan Zulqaidah, Zulhijjah, dan Muharam.[9]
Dalam bidang hukum, Mushthafa Sa’id Al-Kihinn sebagai mana dikutip
oleh Jaih Mubarok menyebutkan bahwa bangsa arab pra islam menjadika adat
sebagai hukum dengan berbagai bentuknya.[10]
Dalam perkawinan, mereka mengenal beberapa perkawinan, diantaranya:
1.
Al- Khidn, menurut anggapan mereka asal tidak ketahuan tidak
apa-apa, tapi kalau ketahuan dianggap tercela, perkawinan seperti ini
memelihara gundik.
2.
Badal, atau tukar istri, seorang laik-laki menawarkan kepada
laki-laki lain: "izinkanlah saya tidur bersama istrimu dan istrimu boleh
untukmu", perkawinan seperti ini "jual beli"tukar tambah.
3.
Istibdha, kawin untuk mencari "bibit unggul".Seorang
laki-laki menyuruh istrinya supaya menyuruh tidur dengan laki-laki lain. Suami
berpesan, "kalau kamu sudah suci dari haid pergilah kepada si "anu",
mintalah agar kamu dicampuri.", kemudian istri tersebut memisahkan diri
sampai jelas mengandung. kalau sudah hamil suaminya boleh memcampurinya kalau
ia mau.
4.
Poliandri, kira-kira sepuluh orang mencampurinya, masing-masing
mendapat giliran,kalau wanita itu sudah hamildan melahirkan, selang beberapa
malam wanita itu memanggil beberapa laki-laki yang mencampurinya dan mereka
tidak boleh menolaknya, setelah kumpul wanita itu berkata, "kamu sudah
tahu apa yang kamu perbuat terhadap diriku, sekarang saya telah melahirkan,
anak itu adalah anakmu (dia menyebutkan nama seorang yang ia sukai)", maka
anak itu diajukan sebagai anak dari laki-laki yang ia tunjuk dan si laki-laki
tidak boleh membantahnya.
5.
Syighar, seorang laki-laki menikahkan anak perempuannya dengan
seorang dengan diikuti permintaan agar dia dikawinkan dengan anak perempuan
calon menantunya atau perempuan yang ada dibawah kekuasaan orang yang akan
dikawinkan dengan anak perempuannya, keduanya akan kawin tanpa membayar mas
kawin.
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa sebagian besar daerah
Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali daerah Yaman yang terkenal subur
dan bahwa ia terletak di daerah strategis sebagai lalu lintas perdagangan. Ia
terletak di tengah-tengah dunia dan jalur-jalur perdagangan dunia, terutama
jalur-jalur yang menghubungkan Timur Jauh dan India dengan Timur Tengah melalui
jalur darat yaitu dengan jalur melalui Asia Tengah ke Iran, Irak lalu ke laut
tengah, sedangkan melalui jalur laut yaitu dengan jalur Melayu dan sekitar
India ke teluk Arab atau sekitar Jazirah ke laut merah atau Yaman yang berakhir
di Syam atau Mesir. Oleh karena itu, perdagangan merupakan andalan bagi
kehidupan perekonomian bagi mayoritas negara-negara di daerah-daerah ini.
KESIMPULAN
Nageri arab terletak di sebelah barat daya Asia, dan merupakan
semenajung yang di kelilingi laut dari tiga jurusan; Lau Merah, Lautan Hindia,
dan Teluk Persia. Negeri-negeri Arabia pada umumnya terdiri dar padang pasir
(sahara), tetapi tidak semuanya tandus, ada pula yang subur.Dalam segi Sosial,
terdapat beberapa segi baik dan ada pula yang buruk. Segi-segi yang baik,
misalnya setia kepada kawan dan setia kepada janji, dan lain-lain. Segi-segi
yang buruk, misalnya merendahkan derajat wanita, suka bermusuhan lantaran
masalah sepeleh.
Negeri Arab sebagai lalu lintas perdagangan penting terutama Mekah
yang merupakan pusat perdagangan di Jazirah Arab, baik karena meluasnya
pengaruh perdagangannya ke Persia dan Bizantium di sebelah selatan dan Yaman di
sebelah utara atau karena pasar-pasar perdagangannya yang merupakan yang
terpenting di Jazirah Arab karena begitu banyaknya, yaitu Ukāẓ, Majnah, dan Dzū
al-Majāz yang menjadikannya kaya dan tempat bertemunya aliran-aliran
kebudayaan. Mekah merupakan pusat peradaban kecil. Bahkan masa Jahiliah bukan
masa kebodohan dan kemunduran seperti ilustrasi para sejarahwan, tetapi ia
merupakan masa-masa peradaban tinggi. Kebudayaan sebelah utara sudah ada sejak
seribu tahun sebelum masehi. Masyarakat pada zaman Jahiliyah tidak memiliki pemerintahan
seperti sekarang. Mereka hanya memiliki pimpinan yang mengurus berbagai hal
dalam keadaan perang dan damai. Dan Agama yang dianut oleh kalangan bangsa arab
pra islam adalah Paganisme, Yahudi, dan Kristen.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir. 2010.Sejarah Peradaban Islam,Jakarta:
Amzah
Hitti, Fhilif K. 2008. History Of The Arabs.Jakarta: Serambi
Ilmu Semesta
Naseibeh, Hazem Zaki. 1969.Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab,
Jakarta: Bhratara
Supriyadi,Dedi.2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka
Setia
Yatim,Badri.1997. Historiografi Islam. Jakarta : Logos
Wacana Ilmu
[1]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah,
2010) hlm. 55.
[2] Fhilif K Hitti, History Of The Arabs (Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta, 2008) hlm. 3.
[3]Samsul Munir, of cit, hlm. 56.
[4]Hazem Zaki Naseibeh, Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab (Jakarta:
Bhratara, 1969) hlm. 3.
[5]Samsul Munir, of cit, hlm. 59.
[6]Samsul Munir, of cit, hlm. 58-59.
[7]Badri Yatim, Historiografi Islam (Jakarta: Logos Wcana Ilmu,
1997) hlm. 34.
[8]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Setia,
2008) hlm. 54.
[9]Samsul Munir, of cit, hlm. 59.
[10]Dedi Supriyadi, ibid, hlm. 55-56.
Harrah's Las Vegas - Hotel Details - JTM Hub
BalasHapusHarrah's Las 대구광역 출장샵 Vegas. Caesars Entertainment. Entertainment. Harrah's 광주 출장샵 Las Vegas is a 논산 출장마사지 hotel 여주 출장샵 and casino located 평택 출장안마 on the Las Vegas Strip in Paradise, Nevada.